Selasa, 16 Februari 2016

Perjuangan Rio Haryanto Pada Bangsa Yang Melecehkannya



    Rio Haryanto, bocah malang yang lahir dan besar di Indonesia. Bocah malang karena ia terlalu setia dengan indonesia. Bocah malang karena mimpinya melaju di jalanan GP Formula 1 masih dianggap terlalu tinggi dan terlalu mahal untuk negara ini..

  Paling tidak masih terlalu mahal dibandingkan biaya studi banding ke luar negeri para anggota dewan yang katanya untuk kemajuan bangsa ini tapi kenyataannya untuk kemajuan perut para anggota dewan.

Penghinaan di GP Turki



   Tidak ada yang mengenal namanya saat tampil di GP Turki. Ia hanya dianggap pelengkap saja apalagi saat itu tidak ada yang mengenal Rio Haryanto.

     Tapi yang kemudian ia melaju di luar kendali dan keluar sebagai juara. Pihak penyelenggara kelabakan karena tidak menyediakan bendera merah putih dan tidak ada lagu kebangsaan merah putih disana.

    Akhirnya mereka memutuskan menggunakan bendera Polandia yang dipasang terbalik untuk menggantikan ketiadaan bendera merah putih. Rio Haryanto juga akhirnya menyanyi sendiri saat bendera dinaikkan karena pihak penyelenggara tidak menyiapkan lagu Indonesia Raya

Penghinaan GP3 Silverstone, Inggris



    Saat di GP3 Silverstone, Inggris ia tampil terlalu perkasa. Tidak ada yang bisa melewati Rio kala itu, ia terus melaju meninggalkan lawannya hingga pihak penyelenggara menuduhnya berbuat curang, dan memintanya untuk membongkar mobil yang digunakan Rio.

    Rio mempersilahkan mereka untuk membongkar mobil yang digunakan Rio membalap. Tapi tuduhan itu tidak pernah terbukti. Tidak ada komponen ilegal yang digunakan oleh Rio.

Penawaran kewarganegaraan negara lain



   Gemilangnya Rio Haryanto membuat banyak negara kepincut dengannya. Penghinaan selanjutnya adalah beberapa negara memintanya pindah kewargaa negaraan, karena di Indonesia dia tak kan mungkin didanai untuk mimpinya.

Tanpa diduga, ia menolaknya..

   Entah apa yang dipikirkan oleh Rio Haryanto, dia terlalu setia bagi negara ini. Ia tetap ingin mengibarkan bendera merah putih di ajang GP 1. Tapi sayang, kesetiaannya sama sekali tidak dianggap di negeri ini.

   Kesetiaan dan kecintaannya terhadap negeri ini sama sekali tidak ada artinya dibandingkan studi banding dan proyek prestisius para anggota dewan yang katanya untuk memajukan negeri ini.

  Mimpi Rio untuk berlaha di F1 pupus sudah, karena dana sumbangan pemerintah sudah dipastikan ditolak oleh DPR sedangkan dana dari Pertamina tidak bisa keluar kalau tak ada tambahan dari pemerintah. Dana untuk Rio dianggap terlalu besar karena hanya dikeluarkan untuk dirinya sendiri.

   Mungkin sih dana yang disetujui oleh DPR itu adalah dana dana yang bisa dijadikan bancakan rame rame para anggota dewan. Seperti kasus yang sudah terjadi sebelumnya, E -KTP, PON Riau, atau wisma atlet, sapi impor ataupun hambalang. Dana untuk proyek seperti itu akan mengalir sangat deras, bahkan terlalu deras sampai mereka bingung mau dibuat bancakan sama siapa saja dana dana itu.

   Kalau cuma buat seorang bocah malang seperti Rio Haryanto, biarlah dia meratapi nasibnya sendiri, biarkan dia bangun dari mimpinya, dan mulai menerima kenyataan kalau dia lahir dan bernegara Indonesia.

“Siapa yang menciptakan Allah?” Pemuda Itu Menjawab

             

     Ada seorang Atheis yg memasuki sebuah masjid, dia mengajukan 3 pertanyaan yg hanya boleh dijawab dengan akal. Artinya tidak boleh dijawab dengan dalil, karena dalil itu hanya dipercaya oleh pengikutnya, jika menggunakan dalil (naqli) maka justru diskusi ini tidak akan menghasilkan apa-apa…
Pertanyaan atheis itu adalah:

1. Siapa yg menciptakan Allah?? Bukankah semua yg ada di dunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada jika tidak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia bisa makan dan minum tanpa buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, tapi pakai akal….

3. Ini pertanyaan ketiga, kalau iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??
Tidak ada satupun jamaah yg bisa menjawab, kecuali seorang pemuda.
Pemuda itu menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis :

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Sebagaimana angka 2 adalah 1+1 atau 4 adalah 2+2?? Atheis itu diam membisu..
“Jika kamu tahu bahwa 1 itu adalah bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, tapi dia tidak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu memahami bahwa Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta tapi tidak bisa diciptakan??”

2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita ketika dalam perut ibu kita semua makan? Apakah kita juga minum? Kalau memang kita makan dan minum, lalu bagaimana kita buang air ketika dalam perut ibu kita dulu?? Jika anda dulu percaya bahwa kita dulu makan dan minum di perut ibu kita dan kita tidak buang air didalamnya, lalu apa kesulitanmu mempercayai bahwa di Syurga kita akan makan dan minum juga tanpa buang air??

3. Pemuda itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis marah dan kesakitan. Sambil memegang pipinya, sang atheis-pun marah-marah kepada pemuda itu, tapi pemuda itu menjawab : “Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah..dan pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga..lalu jika keduanya dari kulit dan tanah, bagaimana anda bisa kesakitan ketika saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yg sama, sebagaimana Syetan dan Api neraka??
Sang athies itu ketiga kalinya terdiam…

     Sahabat, pemuda tadi memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak semua pertanyaan yg terkesan mencela/merendahkan agama kita harus kita hadapi dengan kekerasan. Dia menjawab pertanyaan sang atheis dengan cerdas dan bernas, sehingga sang atheis tidak mampu berkata-kata lagi atas pertanyaannya..
Itulah pemuda yg Islami, pemuda yg berbudi tinggi, berpengtahuan luas, berfikiran bebas…tapi tidak liberal… tetap terbingkai manis dalam indahnya Aqidah…
Ada yg berkata bahwa pemuda itu adalah Imam Abu Hanifah muda. Rahimahullahu Ta’ala…

Rabu, 03 Februari 2016

Kronologi Bentrok antara Massa IPK dan PP di Medan




              Sejumlah anggota IPK terlihat berkumpul dan berjaga-jaga di depan kantor DPD IPK pasca bentrokan

MEDAN, KOMPAS.com - Ifan (30), warga Jalan HM Yamin Medan, sekitar pukul 15.00 WIB, Sabtu lalu, berada di lokasi bentrok dua organisasi kepemudaan di Medan. 

Kesaksiannya melihat langsung detik demi detik dituliskan seorang polisi menjadi laporan.

Disebutkan, Sabtu 30 Januari 2016 sekira pukul 15.15 WIB telah terjadi bentrok antara OKP IPK dan PP di Jalan Thamrin dan Jalan Asia Medan. 

Kurang lebih 160 orang IPK menaiki 10 mobil dan 60 unit kendaraan roda dua bergerak dari wilayah Krakatau menuju Jalan Pelajar Medan untuk menghadiri pelantikan. 

Di Jalan Gaharu Medan, lalu lintas macet sehingga rombongan memilih melintas ke Jalan Perintis Kemerdekaan dan simpang Jalan Perintis Kemerdekaan - Jalan Thamrin. 

Rombongan berhenti untuk menentukan arah jalan yang akan dilalui, salah seorang kader IPK mengarahkan agar melintas melalui Jalan Thamrin. 

Setibanya di depan Plaza Thamrin massa dari IPK dihadang massa PP namun rombongan tetap terus melalui Jalan Thamrin sehingga menyebabkan terjadinya bentrok fisik. Karena diserang, massa IPK terpecah, sebagian memilih melalui Jalan Asia dan Jalan Sutrisno. 

Dalam bentrok di Jalan Asia, dua unit mobil yakni Escudo warna hijau BK 2 TW milik kader IPK PAC Medan Labuhan dirusak massa. Namun penumpang mobil berhasil menyelamatkan diri. 

Kader IPK dari Gaharu, Kecamatan Medan Timur dengan menggunakan mobil Toyota Soluna loreng IPK, BK 1 PK yang dikendarai Ketua Ranting Gaharu, Monang Hutabarat melintasi Jalan Asia pun diserang massa PP. 

Penumpang mobil terdiri dari satu wanita, seorang anak dan satu kader IPK. Monang keluar dari dalam mobil untuk melundungi yang berada di dalam mobil.

Akibatnya, Monang diserang massa PP dengan menggunakan senjata tajam. Namun Monang berhasil masuk kembali ke dalam mobil dan melarikan diri ke RS Permata Bunda. 

Pukul 15.30 WIB, massa PP dipimpin Iwan Kera melakukan penyerangan ke Jalan Pandu, Jalan Semarang dan Jalan Surabaya.

Mereka menghancurkan plang IPK serta satu unit mobil Suzuki Esteem BK 1651 XI. Pukul 16.00 WIB, personel gabungan dari Polresta Medan, Polsek Medan Kota serta Polsek Medan Area berhasil meredam penyerangan ini. 

Pukul 16.30 wib, massa IPK yang berjumlah kurang lebih 500 orang berkumpul di RS Permata Bunda dan berencana akan melakukan penyerangan ke kantor MPW PP Sumut. Hal ini pun berhasil diredam.

Massa lalu meninggalkan RS Permata Bunda Medan menuju Kantor DPD IPK Kota Medan.

Dalam kejadian ini, Monang Hutabarat meninggal dunia. Tiga orang mengalami luka akibat terkena benda tumpul, dua unit sepeda motor hangus dibakar, tiga unit mobil rusak akibat hantaman benda tumpul.

Lalu, Kantor MPW PP Sumut rusak akibat di serang dengan benda tumpul, Pos PAC PP Medan Kota di Jalan Sutomo Medan rusak dan sebagian hangus terbakar serta plang IPK di Jalan Semarang Medan dirusak. 

Seperti di beritakan sebelumnya, bentrokan maut antara OKP Pemuda Pancasila (PP) versus Ikatan Pemuda Karya (IPK) menewaskan dua orang di Jalan Thamrin - Jalan Asia Medan pada, Sabtu (30/1/2016) lalu.

Situasi Kota Medan seketika mencekam, aparat gabungan TNI dan Polri menurunkan kekuatan penuh untuk mencegah bentrok berulang hingga Minggu (31/1/2016), tapi masih terjadi bentrok susulan di sejumlah ruas jalan seperti di Jalan Juanda, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Yos Sudarso Simpang Glugur dan Jalan Djamin Ginting Medan.

sumber: http://regional.kompas.com/read/2016/02/01/15212141/Kronologi.Bentrok.antara.Massa.IPK.dan.PP.di.Medan.